Event Gallery

  • Foto Kursus PWG 1.jpeg
  • Foto Kursus PWG 2.jpeg
  • Foto kursus PWG 3.jpeg
  • Foto Kursus PWG 4.jpeg
  • Foto Kursus PWG 5.jpeg
  • PHOTO-2019-02-26-14-16-03.jpg
  • PHOTO-2019-03-04-09-56-28.jpg
  • PHOTO-2019-03-04-11-18-32.jpg
  • Sertifikasi2.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-03-28-at-15.57.25.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-04-03-at-21.25.50.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-04-04-at-17.18.31.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-04-04-at-21.54.47.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-04-04-at-21.55.01.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-04-04-at-22.09.05.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-04-26-at-10.29.36.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-04-26-at-10.35.34.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-05-07-at-09.29.40.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-05-07-at-16.39.10.jpeg
  • WhatsApp-Image-2019-05-09-at-08.34.24.jpeg

Indonesia Mountain

  • 1185370_786960518100995_8011343139835030094_n.jpg
  • 10422309_798416256955421_6168533527731885120_n.jpg
  • 12919835_798424283621285_7195636274828802905_n.jpg
  • 12924584_798424620287918_3807309554666243758_n.jpg
  • 12924605_798412900289090_4719060143095782907_n.jpg
  • 13226637_820580078072372_1680588112408427219_n.jpg
  • 13230214_820580144739032_8654821586464724066_n.jpg
  • 13240598_820580014739045_2517345235741584724_n.jpg
  • 13466097_838715012925545_6721968200760090634_n.jpg
  • 13524503_838715122925534_6080875455115018670_n.jpg
  • 13680843_858204144309965_4031522136645710069_n.jpg
  • 13882491_858204374309942_5926384847374949806_n.jpg
  • 13901387_858204354309944_9211407640682254352_n.jpg
  • 14063783_871889326274780_2874805335097638669_n.jpg
  • 14642224_900927673370945_470481986528853486_n.jpg
  • 15338799_938465259617186_3423818164524031520_n.jpg
  • 15355838_939311622865883_9163565681665693297_n.jpg
  • 15356496_938465566283822_1629554658263365863_n.jpg
  • 21743173_1120109944786049_7364543000056347213_n.jpg
  • 21743283_1120110038119373_1348244547331643469_n.jpg

Program

  • 1185370_786960518100995_8011343139835030094_n.jpg
  • 10422309_798416256955421_6168533527731885120_n.jpg
  • 12919835_798424283621285_7195636274828802905_n.jpg
  • 12924584_798424620287918_3807309554666243758_n.jpg
  • 12924605_798412900289090_4719060143095782907_n.jpg
  • 13226637_820580078072372_1680588112408427219_n.jpg
  • 13230214_820580144739032_8654821586464724066_n.jpg
  • 13240598_820580014739045_2517345235741584724_n.jpg
  • 13466097_838715012925545_6721968200760090634_n.jpg
  • 13524503_838715122925534_6080875455115018670_n.jpg
  • 13680843_858204144309965_4031522136645710069_n.jpg
  • 13882491_858204374309942_5926384847374949806_n.jpg
  • 13901387_858204354309944_9211407640682254352_n.jpg
  • 14063783_871889326274780_2874805335097638669_n.jpg
  • 14642224_900927673370945_470481986528853486_n.jpg
  • 15338799_938465259617186_3423818164524031520_n.jpg
  • 15355838_939311622865883_9163565681665693297_n.jpg
  • 15356496_938465566283822_1629554658263365863_n.jpg
  • 21743173_1120109944786049_7364543000056347213_n.jpg
  • 21743283_1120110038119373_1348244547331643469_n.jpg

Guide Profile

  • 1185370_786960518100995_8011343139835030094_n.jpg
  • 10422309_798416256955421_6168533527731885120_n.jpg
  • 12919835_798424283621285_7195636274828802905_n.jpg
  • 12924584_798424620287918_3807309554666243758_n.jpg
  • 12924605_798412900289090_4719060143095782907_n.jpg
  • 13226637_820580078072372_1680588112408427219_n.jpg
  • 13230214_820580144739032_8654821586464724066_n.jpg
  • 13240598_820580014739045_2517345235741584724_n.jpg
  • 13466097_838715012925545_6721968200760090634_n.jpg
  • 13524503_838715122925534_6080875455115018670_n.jpg
  • 13680843_858204144309965_4031522136645710069_n.jpg
  • 13882491_858204374309942_5926384847374949806_n.jpg
  • 13901387_858204354309944_9211407640682254352_n.jpg
  • 14063783_871889326274780_2874805335097638669_n.jpg
  • 14642224_900927673370945_470481986528853486_n.jpg
  • 15338799_938465259617186_3423818164524031520_n.jpg
  • 15355838_939311622865883_9163565681665693297_n.jpg
  • 15356496_938465566283822_1629554658263365863_n.jpg
  • 21743173_1120109944786049_7364543000056347213_n.jpg
  • 21743283_1120110038119373_1348244547331643469_n.jpg

3 Pelajaran Bisnis

3 Pelajaran Bisnis dari Kejatuhan NET TV dan Bisnis Pemanduan Gunung

 

Kalau menganalisa sebuah turbulensi bisnis yang dialami oleh Net TV, sebenarnya tidak cukup kalau hanya membicarakannya hanya dengan 3 teori saja. Pertama, teori STP di manajemen pemasaran, kemudian yang kedua adalah profit is important (more than passion and idealism) dan yang terakhir kompetisi dari produk substitusi (5 Force-nya Michael Porter). Ketiga teori itu sebenarnya teori yang sangat mendasar ketika ingin berbisnis ataupun sedang menjalankan bisnis. Malah dalam manajemen keuangan, profit bukan utama tetapi cash is the king.

 

Oh iya, saya lebih suka menyebut turbulensi bisnis yang dialami oleh NET TV ketimbang menyebutnya sebagai kejatuhan NET TV. Kenapa? NET TV belum menyatakan diri bangkrut atau dinyatakan bangkrut, jadi menurut saya belum jatuh tetapi hanya oleng karena kesandung. Beberapa waktu lalu, NET TV menunjuk CEO baru dan Wishnutama diangkat menjadi Komisaris Utama. Kedua hal tersebut menunjukkan kalau NET TV akan melakukan business turn-around, beberapa hal akan dikaji dan dikonsep ulang, lalu diimplementasikan dalam waktu dekat.

 

Ada hal yang menarik buat saya akan pernyataan Yodhia Antariksa yang menyebut “Pelajaran Bisnis #2: Idealisme dan Passion adalah Bullshit”. Poin yang keras dan kasar, menurut pendapat saya, walau kemudian beliau melunakkannya dengan menyatakan “Kombinasikan passion dengan profit dan market demand”. Mengapa hal ini menarik buat saya? Ada 2 hal. Pertama, buat saya idealisme dan passion sangat penting dalam menjalankan bisnis, tanpa kedua hal tersebut institusi bisnis akan seperti zombie. Hanya bertujuan mengalahkan lawan bisnis dan kemudian mengakuisisinya, tidak ada rasa bahagia ketika mencapai sesuatu, tidak ada senyum, tidak ada kecewa. Tidak ada kehidupan. Yang kedua, idealisme dan passion sangat terkait dengan bisnis wisata pendakian gunung dan hal ini yang mendorong saya untuk menulis artikel ini.

 

Idealisme dan passion banyak ragamnya, tetapi pada intinya, manusia hanya mempunyai 3 jenis big passion, yaitu passion akan harta kekayaan, passion akan penghormatan prestasi dan passion akan ke-agama-an. Akan menjadi hal yang membahagiakan (bagi seorang muslim) jika misal dia mempunyai rumah dan mobil, bisa mensekolahkan anak-anaknya dan kemudian menikahkan mereka, punya cucu dan kemudian pergi haji. Ada orang yang mampu melaksanakan ketiga passionnya bersamaan, ada yang harus satu demi satu.

 

Pemilik perusahaan konglomerasi biasanya memulainya dengan passion akan harta kekayaan, setelah kaya raya kemudian dia akan mencari penghormatan prestasi. Penghormatan bisa sebagai wakil rakyat di Senayan, duta besar ataupun donatur kegiatan-kegiatan sosial. Kemudian di masa tuanya, ada yang pergi haji kemudian berdakwah (bagi yang muslim) atau menjadi pendeta (bagi yang kristiani). Selain itu, ada orang yang memulai jalannya melaksanakan passionnya dengan berdakwah dengan bayaran seadanya atau bahkan tidak dibayar. Berjalannya waktu, jika isi dakwahnya memang bermutu, akan muncul penghargaan dari masyarakat bahwa dakwahnya memang sangat berguna. Kemudian dimulailah permintaan dari sana-sini untuk berdakwah, dan kemudian isi mutu dakwah dan cara penyampaiannya akan mulai ada nilai materinya.

 

Lalu bagaimana dengan pemandu gunung? Banyak pemandu gunung memulai usahanya dengan mengejar passion akan penghormatan prestasi, misal 7 puncak dunia, 7 puncak Indonesia dan lain sebagainya. Baik secara tidak sengaja ataupun memang ditargetkan. Kemudian merubah hobby-nya menjadi profesi, maka usaha melaksanakan passionnya bergeser untuk mencapai materi atau harta kekayaan tertentu. Dan saya yakin, di kemudian hari nanti, pencapaian akan hal ke-agama-an akan dilaksanakannya. Kenapa saya yakin? Karena sudah terbukti, di perioda naik haji tahun ini, ada seorang pendaki senior berumur sekitar 60an tahun pergi haji bersama istrinya setelah 3-4 dekade berpetualang.

 

Passion dan idealisme, menurut saya, harus diterapkan dalam berbisnis. Hanya saja, yang perlu diingat, setiap hal di dunia ini ada batasnya, ada keseimbangannya. Passion pribadi pun harus ada batasnya ketika berinteraksi dengan bisnis. Bisa saja membawa wisatawan ke Carstensz, Kilimanjaro atau Aconcagua, memenuhi passion untuk berhasil summit attack dan pulang dengan selamat, tetapi jika tidak ada cash money yang dibawa pulang maka segera bisnis akan bermasalah. Dalam wisata pendakian gunung, bullshit kalau tidak ada passion dan idealism! Harus ada, tetapi perlu diseimbangkan antara ketiga big passion tersebut.

 

Sebagai seorang CEO NET TV, mungkin Wishnutama sedikit tidak seimbang dalam menerapkan passionnya akan tayangan berkualitas versus bisnis TV yang penontonnya lebih suka akan sinetron drama atau kehebohan kehidupan artis. Itu mungkin sebabnya beliau mendapat posisi baru sebagai Komisaris Utama yang harus tetap brilian mengalirkan passion dan idealisme ke dalam tayangan-tayangan NET TV tetapi beliau kemudian dibatasi dalam keputusan-keputusan komersial sehingga keseimbangan kualitas sebagai idealisme berimbang dengan aliran uang masuk.

 

Coba review kasus lain, tayangan Jejak Petualang di awal tahun 2000an dengan tayangan 3-4 tahun terakhir. Apakah anda masih merasa ada perbedaaan “passion dan idealisme” di awal masa tayangnya dan sekarang? Kemudian tahun 2001 hingga 2010, rating iklan Jejak Petualang tumbuh. Apa indikatornya? Indikatornya adalah jam tayang, semakin dekat ke prime time maka semakin tinggi ratingnya. Dan kalau tidak salah, sejak 2015, rating Jejak Petualang terus turun. Jejak Petualang yang memang dibangun dengan passion dan idealisme juga terbukti menjadi tayangan petualangan yang paling lama, sudah hampir 2 dekade! Bandingkan dengan tayangan sejenis yang hanya berusaha mencari rating iklan, umurnya tidak sepanjang Jejak Petualang.

 

Sedih kalau Indonesia kehilangan tayangan-tayangan TV yang berkualitas. Keep the passion and idealism, viva NET TV!

 

Bagi pelaku-pelaku bisnis wisata gunung, atau bahkan wisata petualangan lain, perlu menyeimbangankan ketiga big passion tersebut. Penghargaan prestasi tanpa uang kas tidak akan membuat bisnis hidup. Tanpa menghormati kekuasaan Tuhan YME, kekuatan alam serta melakukan ibadah, pun bisnis tidak akan berumur lama.

 

Passion akan harta kekayaan, dapat diturunkan secara positif yaitu dengan memperbaiki kualitas diri dalam berbisnis dari waktu ke waktu. Memahami filosofi ataupun teori-teori manajemen dasar perlu dilakukan, berhubungan baik dengan sesama dan membangun jaringan bisnis juga diperlukan, termasuk juga mengenali perubahan-perubahan model bisnis serta perkembangan teknologi. Pemahaman akan hal-hal teknis harus terus diasah supaya sebagai wirausaha juga mampu untuk berinovasi ataupun melakukan efisiensi biaya.

 

Analisa 5 Forces Porter mengatakan bahwa ada 5 kekuatan yang akan mempengaruhi kelangsungan bisnis, yang pertama adalah kompetisi dalam industri, potensi kompetitor-kompetitor baru, kekuatan supplier, kekuatan pelanggan/pembeli dan ancaman produk substitusi. Dalam bisnis siaran TV, potensi kompetitor baru dan produk substitusi sudah lama diketahui mulai dari bioskop; video player mulai dari Betamax, VHS, VCD, DVD hingga Blueray; hingga masuknya teknologi internet dengan postingan video hingga live streaming.   

 

Lalu dalam bisnis wisata gunung, apa kira-kira produk substitusinya? Dari dulu hingga sekarang, substitusinya adalah wisata lainnya, baik yang konvensional maupun wisata alam lain yang ekstrem. Tetapi dengan semakin majunya teknologi VR, tidak heran jika di masa depan orang orang menggunakan teknologi tersebut untuk merasakan mendaki Carstenzs, Everest, Matterhorn ataupun sekedar gunung Andong. Generasi milenial mempunyai “power of customers” jika bicara wisata gunung dengan menggunakan VR sehingga persaingan usaha di masa depan akan semakin kompleks. Belum lagi Jepang yang begitu getolnya mengembangkan teknologi robot dengan AI-nya yang mungkin akan menyingkirkan pemandu wisata manusia di masa depan.

 

Perkembangan internet dengan sosial media telah memotong jalur distribusi penjualan menjadi sangat pendek dan cepat. Dulu, wisatawan pendaki dari Malaysia selalu berhubungan dengan TO di Jakarta tetapi 4-5 tahun belakangan, mereka langsung mengontak TO yang berada di basecamp. TO lokal ataupun rekan-rekan yang berada di basecamp kaki gunung, yang tadinya merupakan “supplier” bagi TO di Jakarta ternyata memiliki kekuatan bisnis tersembunyi dan kemudian berubah menjadi kompetitor-kompetitor baru. Ya, kompetisi bisnis berubah dengan cepat dan seperti gempa bumi yang datang tanpa bisa diprediksi.

 

Seperti yang Yodhia Antariksa sebut, “Kombinasikan passion dengan profit dan market demand” tetapi mungkin beliau lupa menyebutkan bahwa market demand selain ada dengan sendirinya tetapi bisa juga diciptakan. Indonesia dengan 400 gunung, diantaranya 127 gunung berapi serta 32 pegunungan, sebenarnya adalah arena besar yang mengijinkan para wirausahanya untuk berinovasi dalam membuka potensi-potensi demand wisata gunung.

 

Film pendakian gunung yang terkenal di akhir 2012, terlepas dari pro-kontranya, sebenarnya mengkreasi demand pendakian gunung yang masif. Membentuk komunitas-komunitas atau kelompok elit tertentu seperti Wanita dan Gunung, Jepecom ataupun Indonesia 7 Summiters juga merupakan usaha-usaha mengkreasikan demand wisata gunung. Asosiasi pengusaha ataupun profesi juga mempunyai potensi creating demand, asal serius dan kreatif dalam mengelolanya.   

 

Berwirausaha bukan seperti lari sprint 100 meter, tetapi juga bukan seperti ultra marathon ratusan kilometer. Buat saya, berwirausaha seperti surfing, harus mengerti teknik dasar (baca: teknik terkait industri, manajemen, dlsb), kemudian mengerti tentang fenomena alam (baca: fenomena bisnis, teknologi, dlsb), berani nyemplung ke laut (baca: terjun langsung berbisnis) dan yang terakhir tinggal menunggu gulungan ombak besar untuk mendapatkan tepuk tangan. Tapi perlu diingat, jika tidak berhati-hati ya jatuh tergulung ombak. No risk, no gain.

 

Berbisnis tanpa passion dan idealisme, akan menjadi seperti zombie, and it’s a bullshit. So, keep your passion and idealism, then do the balance with the business aspects. Selamat bekerja, berinovasi dan sukses menyertai anda yang sudah mau membaca hingga paragraf terakhir ini.

 

 

 

Bima S/Pensiunan Asisten PWG/Anggota Dewan Etik APGI

IMGA.OR.ID

Indonesia Mountain Guide Association

15th Griya Hijau Raya Street

Alam Sutera

Tangerang Selatan

Sekretariat

Komplek AL Kodamar Jl. Teguh X no.1

Kelapa Gading

Jakarta Utara

E-mail : infodppapgi@imga.or.id

Member Login